Modal untuk usaha ekonomi (3)

July 5, 2009 by TF Amin  
Filed under Pemberdayaan Ekonomi

Tulisan sebelumnya disini

Begini.

Apa yang tadi teman-teman ceritakan tentang usaha itu sebenarnya masih berupa keinginan, belum berupa usaha yang pernah teman-teman laksanakan. Sekali lagi maih berupa keingnan usaha yang akan teman-teman lakukan, bukan berupa usaha yang pernah atau sedang teman-tema nlakukan tapi karena kurang modal lantas usaha teman-teman  itu kurang berjalan dengan baik.

Para pemuda itu mengangguk, dan saya kemudian melanjutkan lagi.

Read more

Modal untuk usaha ekonomi (2)

July 1, 2009 by TF Amin  
Filed under Pemberdayaan Ekonomi

tulisan sebelumnya.

Saya bertanya kepada para pemuda itu, "memangnya berapa dana yang kalian butuhkan?" Pertanyaan saya lagi-lagi mengagetkan para pemuda itu. Karena seolah pertanyaan itu mengandung makna bahwa lembaga yang saya tawarkan akan bisa memberikan pinjaman dana sesuai dengan harapan mereka.

"Apa kami bisa meminjam dana sebesar tujuh juta?" tanya mreka.

Read more

Modal untuk usaha ekonomi

June 25, 2009 by TF Amin  
Filed under Pemberdayaan Ekonomi

Beberapa pemuda kampung mengelukan kegelisahan mereka, berkait dengan masalah pekerjaan. Keluhan itu tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Sampai terasa risih kuping saya mendengarnya.

“Kalau saja kami punya modal, kami bisa punya pekerjaan,” kata salah seorang dari mereka. Perkataan serupa juga disampaikan oleh lainnya walaupun dengan kalimat yang berbeda.

Mereka mengutarakan kegelisahan itu dengan harapan saya mencarikan modal. Saya pun mencarikan informasi beberapa lembaga seperti koperasi tempat meminjam modal.  Tapi sampai dua bulan kemudian, tak satu pun dari mereka yang memanfaatkan koperasi itu, untuk membiayai usaha yang mereka impikan.

“Mengapa  kalian tidak memanfaatkan koperasi itu?” Saya bertanya, dalam sebuah kesempatan ngobrol bersama mereka.

“Terlalu ribet syaratnya,” kata salah seorang dari mereka.

“Kami tak punya barang yang bisa dijadikan jaminan untuk uang yang kami pinjam,” kata lainnya.

Pendek kata, tidak satu pun dari mereka  yang meminjam uang di koperasi itu karena alasan mereka tidak berani ambil resiko atas syarat yang diajukan.

“Kalau saja syaratnya tidak seribet itu, kami sudah meminjamnya,” seorang dari mereka berkata. Wajah seseorang itu nampaknya menyimpan sesuatu yang berat, mungkin karena berharap sekali ada pinjaman tetapi dengan syarat yang bisa mereka jangkau.

“Berarti kalau ada koperasi lain yang memberi pinjaman dengan syarat tidak seribet itu teman-teman mau?” tanya saya.

Para pemuda itu saling pandang, seolah tidak percaya dengan yang saya tanyakan.

“Memangnya ada?” tanya mereka.

“Kalau ada, bagaimana?” saya jawab pertanyaan mereka dengan pertanyaan pula.

Saya menceritakan tentang lembaga pemberi pinjaman itu. Lembaga itu tidak mensyaratkan adanya jaminan, seperti koperasi yang sebelunya saya ceritakan. Tapi lembaga itu mensyaratkan adanya bagi usaha, sekian persen dari usaha yang akan dilaksanakan. Seberapa besar persenan hasil usaha itu bisa dibicarakan.

“Apa itu berupa BMT?”

Seseorang dari mereka yang bertanya itu bercerita bahwa biasanya yang menerapkan prinsip bagi hasil adalah BMT. Tapi, katanya pemuda itu lagi, banyak BMT yang masih mensyaratkan adanya jaminan.

“Boleh dibilang semacam itu,” kata saya. “Tapi jaminan bukan berbentuk barang, seperti misalnya sepeda motor. Jaminan yang dibuat oleh lembaga ini berbeda dari lainnya. Karena jaminannya berupa sebuah perencanaan usaha yang akan dibangun.”

“Sebuah perencanaan?” tanya mereka.

Apa maksudnya?

Ya, sebuah perencanaan. Lembaga itu mensyaratkan sebuah perencanaan usaha. Kalau boleh saya tahu, teman-teman akan usaha apa? Saya bertanya tentang usaha yang mereka akan bangun, untuk menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan syarat perencanaan.

Para pemuda itu saling pandang kembali. Kelihatannya mereka bingung dengan usaha apa yang mereka akan lakukan. Sampai beberapa lama mereka bingung, seorang dari mereka kemudian menjawab, “kalau sudah ada dananya, kami bisa menentukan usaha apa yang akan kami lakukan.”

“Berarti usahanya belum direncanakan?” tanya saya.

“Belum, karena kami lihat dulu dananya. Kalau dananya besar, kami akan membikin usaha yang agak baik, tapi kalau dananya kecil ya kami masih memikir-mikir usaha apa yang akan kami lakukan,” kata seorang pemuda itu.

Mendengar jawaban itu, saya berfikir sesuatu, berfikir yang kemudian melahirkan sebuah pertanyaan, benarkah para pemuda ini sebenarnya membutuhkan modal usaha? Kalau memang mereka membutuhkan modal usaha, mengapa mereka masih berfikir tentang usaha yang akan dijalankan? Bukankah semestinya mereka sudah mempunyai jawaban usaha yang akan mereka lakukan?

“Kang, memangnya berapa dana yang bisa kami pinjam dari lembaga itu?” salah seorang dari mereka bertanya. Sebuah pertanyaan yang terasa aneh di telinga saya, karena para pemuda itu saja belum punya rencana tentang usaha apa yang akan mereka lakukan  tapi mereka sudah berani bertanya tentang seberapa besar dana yang bisa  mereka pinjam.

bersambung kesini