Tidak ada Tuhan selain Uang?

November 6, 2009 by TF Amin  
Filed under Featured, Pemberdayaan Ekonomi

Banyak orang membutuhkan  uang, termasuk juga saya. Tapi, membutukan uang bukan berarti menjadi hamba uang, atau men-Tuhan-kannya. Menjadi hamba uang, akan menjadikan hidup kita tidak merdeka. Karena ketika ketika mau berbuat sesuatu, selalu saja yang keluar dari pikiran kita adalah, “seberapa uang yang akan kita dapat dari perbuatan kita?”

Pikiran macam itu sudah sering saya lontarkan kepada banyak orang. Pikiran yang menurut saya cukup mudah untuk dikatakan, tapi begitu susah diwujudkan dalam kenyataan. Atas pikiran itu, ada teman yang pernah berkomentar bahwa pemikiran macam irtu hanya mungkin bila kita telah bebas finansial –seperti yang sering dikhobahkan dalam buku-buku menejemen kepribadian.

Tapi saya katakan tidak, pikiran itu justru kita tanamkan dalam pikiran kita sejak dari kita masih kesulitan uang.

****

Sore ini saya tulis pikiran ini kembali, ketika saya teringat dalam beberapa hari terakhir ada teman yang datang menemui saya. Teman itu mengeluh kepada saya, tentang sulitnya mencari uang. Pekerjaan apapun akan saya lakukan, kata mereka, asal dapt uang. “Jujur aku katakan,” katanya, “hidup tanpa uang”.

Saya memang tidak bisa memberikan apapun kedapa teman itu, bahkan hanya berupa jawaban yang bisa menenangkan pikiran dan hati mereka. Apalagi pekerjaan. Hingga akhirnya, sampai akhir pertemuan dengan mereka, saya hanya bisa mengajak diskusi, gendu-gendu rasa dalam bahasa Jawa, tentang posisi kita dihadapan uang.

Saya mulai denga sebuah pertanyaan, sebenanya yang anda cari itu uang atau makan? Teman saya tidak menjawab pertanyaan saya. Karena katanya, bagaimana kita bisa makan sementara kita tidak punya uang? Saya tertawa mendengar pertanyaan balik itu, sambil berkata bahwa mencari uang dan mencari makan itu bisa bermakna sama tapi bisa pula berbeda.

Bermakna sama, ketika anda di Jakarta. Bila tidak bekerja, mencari uang, anda tidak bisa makan. Tapi, kalau anda tinggal di kampung, mencari uang dan mencari makan itu bisa berbeda. Bedanya, saya pertegas, bahwa di kampung, walau gak punya uang, kita bisa makan.  Bukankah selama ini anda bisa makan walau tidak punya uang?

Teman  saya tidak menjawab, tapi kepala mereka mantuk, sepertinya setuju. Saya juga tidak tahu, bagaimana teman saya bisa makan sementara dia tidak punya uang. Hingga akhirnya, saya lanjutkan omongan saya, di kampung itu, asal kita punya sejangkal tanah, dan kita menanam apapun disana, seminsal lombok, sayuran, kita bisa mengambil hasilnya. Apalagi bila dalam jumlah yang banyak.

Dari situ, saya katakan kepada teman”saya, bahwa tak perlulah kita berfikir bahwa tanpa uang kita tidak bisa hidup. Apalagi kalau hanya sekedar tidak makan. Bila kita masih gelisah bahwa tanpa uang tidak bisa makan, saya katakan kepada teman itu, itu artinya kita men-Tuhan-kan uang.

***

Sepertinya, uang itu segalanya. Saya juga mengakui tanpa uang sering kebingungan. Tapi bila uang diangap segalanya, apalagi bila tertanam dalam pikiran kita tidak bisa hidup tanpa uang, itu artinya kita telah menjadi budak uang, men-Tuhan-kan uang. Hingga sore ini saya punya pelajaran begitu berarti bahwa, salah satu tanda keberdayaan adalah, ketika kita sadar butuh uang, tapi kita tidak menjadi budaknya.***