Tidak ada Tuhan selain Uang?

November 6, 2009 by TF Amin  
Filed under Featured, Pemberdayaan Ekonomi

Banyak orang membutuhkan  uang, termasuk juga saya. Tapi, membutukan uang bukan berarti menjadi hamba uang, atau men-Tuhan-kannya. Menjadi hamba uang, akan menjadikan hidup kita tidak merdeka. Karena ketika ketika mau berbuat sesuatu, selalu saja yang keluar dari pikiran kita adalah, “seberapa uang yang akan kita dapat dari perbuatan kita?”

Pikiran macam itu sudah sering saya lontarkan kepada banyak orang. Pikiran yang menurut saya cukup mudah untuk dikatakan, tapi begitu susah diwujudkan dalam kenyataan. Atas pikiran itu, ada teman yang pernah berkomentar bahwa pemikiran macam irtu hanya mungkin bila kita telah bebas finansial –seperti yang sering dikhobahkan dalam buku-buku menejemen kepribadian.

Tapi saya katakan tidak, pikiran itu justru kita tanamkan dalam pikiran kita sejak dari kita masih kesulitan uang.

****

Sore ini saya tulis pikiran ini kembali, ketika saya teringat dalam beberapa hari terakhir ada teman yang datang menemui saya. Teman itu mengeluh kepada saya, tentang sulitnya mencari uang. Pekerjaan apapun akan saya lakukan, kata mereka, asal dapt uang. “Jujur aku katakan,” katanya, “hidup tanpa uang”.

Saya memang tidak bisa memberikan apapun kedapa teman itu, bahkan hanya berupa jawaban yang bisa menenangkan pikiran dan hati mereka. Apalagi pekerjaan. Hingga akhirnya, sampai akhir pertemuan dengan mereka, saya hanya bisa mengajak diskusi, gendu-gendu rasa dalam bahasa Jawa, tentang posisi kita dihadapan uang.

Saya mulai denga sebuah pertanyaan, sebenanya yang anda cari itu uang atau makan? Teman saya tidak menjawab pertanyaan saya. Karena katanya, bagaimana kita bisa makan sementara kita tidak punya uang? Saya tertawa mendengar pertanyaan balik itu, sambil berkata bahwa mencari uang dan mencari makan itu bisa bermakna sama tapi bisa pula berbeda.

Bermakna sama, ketika anda di Jakarta. Bila tidak bekerja, mencari uang, anda tidak bisa makan. Tapi, kalau anda tinggal di kampung, mencari uang dan mencari makan itu bisa berbeda. Bedanya, saya pertegas, bahwa di kampung, walau gak punya uang, kita bisa makan.  Bukankah selama ini anda bisa makan walau tidak punya uang?

Teman  saya tidak menjawab, tapi kepala mereka mantuk, sepertinya setuju. Saya juga tidak tahu, bagaimana teman saya bisa makan sementara dia tidak punya uang. Hingga akhirnya, saya lanjutkan omongan saya, di kampung itu, asal kita punya sejangkal tanah, dan kita menanam apapun disana, seminsal lombok, sayuran, kita bisa mengambil hasilnya. Apalagi bila dalam jumlah yang banyak.

Dari situ, saya katakan kepada teman”saya, bahwa tak perlulah kita berfikir bahwa tanpa uang kita tidak bisa hidup. Apalagi kalau hanya sekedar tidak makan. Bila kita masih gelisah bahwa tanpa uang tidak bisa makan, saya katakan kepada teman itu, itu artinya kita men-Tuhan-kan uang.

***

Sepertinya, uang itu segalanya. Saya juga mengakui tanpa uang sering kebingungan. Tapi bila uang diangap segalanya, apalagi bila tertanam dalam pikiran kita tidak bisa hidup tanpa uang, itu artinya kita telah menjadi budak uang, men-Tuhan-kan uang. Hingga sore ini saya punya pelajaran begitu berarti bahwa, salah satu tanda keberdayaan adalah, ketika kita sadar butuh uang, tapi kita tidak menjadi budaknya.***

Sesuatu dibalik sayuran yang segar itu

November 1, 2009 by TF Amin  
Filed under Featured, Pemberdayaan Ekonomi

Sesuatu yang indah dan segar memang menyenangkan. Tidak hanya bagi mata yang melihat, tapi juga bagi indera perasa kita. Contohnya adalah sayuran, banyak dari kita yang  lebih memilih sayuran yang segar dan indah dipandang  mata. Pendek kata, bila sayuran, misalnya kangkung atau bayam, terlihat indah, hijau dan segar, banyak orang yang membeli. Bila sebaliknya, sayuran itu jarang yang membeli. Atau ada yang membelinya tapi dengan pertimbangan harganya lebih murah. Tentang rasa, kadang kalah dengan penglihatan kita.

Ya, banyak dari kita yang membeli sayuran dengan mempertimbangkan sayuran itu indah, hijau dan segar. Padahal, tahukah kita kenapa sayuran itu menjadi demikian? Kata seorang petani, sebut saja dia namanya pak Soleh, sayuran itu menjadi sangat segar, hijau dan indah dipandang mata karena pemupukannya luar biasa. Pupuk kimia yang dipakai cukup banyak, belum lagi obat-obatan lain, seperti obat daun, yang disemprotkan ke tanaman itu. “Tanpa pupuk dan obat-obatan itu, sayuran gak akan demikian segarnya,” kata pak Soleh.

Memang, menghindari makan makanan yang bebas dari bahan kimia bukanlah sesuatu yang mudah. Kecuali bila kita menanam sendiri, di rumah kita, dengan tidak memupuk dan tidak memakai dengan obat-obat kimia. Kayaknya hanya cara ini yang paling ampuh saat ini untuk membebaskan diri kita, atau minimal mengurangi, dari bahan-bahan kimia yang makin banyak saja terdapat dalam sayuran itu.

Tapi, kebanyakan kita memang seringnya berfikir pendek, pragmatis. Misalnya begini, 1) memanam sendiri gak punya lahan, 2) Sudah punya uang, kok repot-repot menanam sendiri, 3) malu bila membeli sayuran yang boreken, jelek, karena sayuran itu tidak dipupuk dengan baik (yang menjual sayuran begini kayaknya juga jarang). Dan lainnya, yang intinya, kebanyakan kita memang seringnya berfikir jangka pendek, sehinga tanpa disadari, kita terus saja mengkonsumsi kimia yang terdapat dalam sayuran-sayuran itu.

Ada pula yang berfikiran sok melas (kasihan) dengan para petani sayuran, kalau kita menanam sendiri, lalu bagaimana nasib para petani sayuran? Sependek yang saya tahu, bahwa penjual akan menyediakan barang dagangan sesuai dengan permintaan pembeli. Kalau saja permintaan pembeli adalah jenis sayuran yang dikurangi unsur kimianya, petani juga  tidak akan menyediakan dagangan macam demikian.

Pendek kata, kebanyakan dari kita memang hanya suka melihat sesuatu yang indah dan segar. Padahal dalam sesuatu yang kelihatan indah dan segar itu, didalamnya bisa jadi mengandung sesuatu yang berbahaya. Seperti dalam sayuran itu, termasuk juga dalam banyak buah-buahan, didalamnya banyak sekali unsur kimia yang berbahaya bagi tubuh kita. Bulan yang di atas sana terlihat indah,tapi katanya sih, saya juga belum pernah kesana, senyatanya berbatu-batu dan gak layak huni.

Dari cerita ini, pagi ini, setelah lama sekali gak menulis disini, saya punya pelajaran yang berharga, bahwa keberdayaan itu ya berkait dengan kemampuan kita dalam melihat sesuatu sampai kedalam-dalamnya. Melihat keindahan tidak hanya dengan mata kita, yang seringnya telah terkontaminasi, tapi juga dengan kacamata lain, berupa ilmu kesehatan. Sesuatu yang terlihat indah, tidak selamanya menyehatkan.***

Kiai Dulah dan Kebunnya

September 18, 2009 by TF Amin  
Filed under Featured, Gagasan

Saya mengendarai mobil begitu kencang menuju ke timur. Sampai saya tak menyadari telah sampai di sebuah desa. Saya merasa belum pernah menuju desa ini. Terasa asing, kecuali satu plang terpampang di halaman rumah seorang warga. Terlihat jelas plang itu bertuliskan Pimpinan Ranting NU Desa Clebok –bukan nama desa sebenarnya.

Saya membelokan mobil, karena saya selalu merasa bila sebuah rumah ada gambar NU-nya adalah saudara saya. InsyaAllah akan diterima sebagai tamu –sebagai sesama warga NU. Apalagi hari itu, maghrib menjelang, siapa tahu saya akan kebagian seteguk air putih untuk membatalkan puasa bila bedug buka telah berkumandang.

Saya turun dari mobil, melihat kanan kiri. Sepi, tak seorang pun terlihat. Saya perhatikan rumah itu sebelum mengetuk dan mengucapkan salam. Tapi rumah itu juga kelihatan sepi, tak terdengar aktivitas manusia satu pun.

Saya melangkahkah kaki ke depan, mengetok pintu. Tok tok tok, assalamualaikum. Tidak ada jawaban. Saya mengulangi lagi, beberapa kali, tetap tidak ada jawaban. Saya semakin ragu, dan saya memutuskan untuk meninggalkan rumah itu.

Tapi, niatan itu saya urungkan. Saya mesti menunggu. Saya duduk, merebahkan diri di emperan rumah itu. Udara begitu segar menyiram tubuh saya, dari arah barat. Suara gemerisik pepohonan yang terkena angin begitu indah di telinga. Sampai akhirnya saya sadar tentang tanaman-tanaman dan pohon-pohon di sekeliling rumah itu.

Saya sering berkunjung ke rumah banyak teman. Ada begitu banyak rumah teman yang halamannya ditanami berbagai tanaman bunga. Dari bunga yang biasa tumbuh di pinggir jalan, yang merambat di pagar-pagar rumah, bunga yang tumbuh di pekuburan, sampai tanaman bunga yang harganya mahal-mahal. Saya sendiri tidak tahu apa nama bunga-bunga itu, dan darimana asalnya, juga mengapa bunga macam itu harganya mahal.

Saya tidak pernah bertanya itu, karena memang telah menjadi hal biasa bagi mereka yang memang senang dengan keindahan halaman. Beberapa rumah teman, malah menaruh pot di ruangan dalam, khususnya di halaman bale-bale. Terasa segar sebuah rumah yang dihalamannya ditanami begitu banyak bunga. Jujur saja, saya merasa senang berada di rumah macam itu.

Segar, asri, memberikan kedamaian.

Begitu juga dengan rumah tempat saya bersandar kini. Rumah ini begitu sejuk, segar dan damai. Tapi, ada yang membuat saya terpana. Tanaman-tanaman itu bukanlah tanaman bunga-bunga. Apalagi bunga yang mahal-mahal.

Saya lalu berdiri, mengamati tanaman dan pohon-pohon. Ada tanaman tomat, lombok, gambas, kecipir, dan banyak lagi. Pendek kata, tanaman yang tumbuh di pot-pot di rumah itu adalah tanaman palawija. Dan tanaman lainnya yang agak besar adalah pohon buah-buahan, seperti pohon mangga, jambu mete, dan lain-lain. Ada pula, pohon uwi, yang batangnya merayap ke atas mengikuti lanjaran bambu. Ada pula ganyong, irut, gembili, suweg, dan pohon lain yang saya hampir gak hapal nama-namanya.

Saya melihat ke arah barat rumah itu, tanaman jagung berderet begitu rapih. Di sebelah utaranya, ada tanaman ketela pohon. “Ah, ini sebuah kebun,” pikirku. Ya, ini sebuah kebun, tapi, kenapa kebun berada di halaman rumah? Bahkan memenuhi semua pelataran rumah? Karena selain pot-pot di bawah, ada banyak juga pot-pot yang bergelantungan di pohon. Banyak sekali. Hijau dan subur.

Assalamu’alaikum.

Tiba-tiba ada suara yang mengagetkanku. Spontan saya menjawab, waalaikumsalam. Seorang berumur sekitar lima puluh tahun menghampiriku, menyalami. Saya menerima uluran tangan itu. Terasa anyes tangan seorang itu.

“Saya Dulah,” katanya memperkenalkan diri. “Orang-orang menyebut saya kiai, padahal saya hanyalah petani kebun.” Kiai Dulah tertawa.

Giliran saya berkenalan, “Saya Tajib.” Lalu saya mengenalkan diri siapa saya, mengapa sampai kemari. Perkenlan cukup singkat itu terasa hangat, karena ternyata masing-masing kami merasa saudara, sama-sama warga NU.

“Saya berharap kang Tajib bisa mengabarkan cerita ini ke warga NU lainnya,” pinta kiai Dulah, begitu saya mau pamit.

Lho, kiai Dulah memang cerita apa?

Begini.

Tadi, setelah kami berkenalan, kiai Dulah bercerita tentang kebunnya. Katanya, kebun ini adalah bagian dari gerakan warga desa itu untuk membangun keberdayaan warga NU.

Katanya, kita saat ini menghadapi dua ancaman. Pertama, kita menghadapi ancaman kerusakan lingkungan, dan kedua, kita harus jujur, banyak warga NU disini khususnya, yang sulit bangkit dari kemiskinan. Apalagi mencari pekerjaan begitu sulit.

Nah, berkebun seperti ini sebagai upaya warga NU disini untuk menghadapi dua ancaman itu sekaligus. Dengan berkebun seperti ini, kita bisa ikut menyumbang memperbaiki kerusakan lingkungan.

Dengan berkebun seperti ini pula, keluarga-keluarga di kampung ini bisa mendapatkan hasil. Hasil utama, kita tidak beli bila membutuhkan sayuran dan tetek bengeknya. Kebutuhan kita sendiri terpenuhi. Sukur, dan kita mulai merasakan, sebagian warga disini bisa menjual hasilnya di pasar. Bisa untuk menambah biaya sekolah anak-anak kami.

Saya terperangah mendengar cerita kiai Dulah itu, dan ketika saya mau pamit dia berpesan, “Saya berharap kang Tajib bisa mengabarkan cerita saya ke warga NU lainnya,” saya langsung mantuk-mantuk setuju. Karena, apa yang dilakukan kiai Dulah itu memang luar biasa, dan seyogyanya dicontoh oleh banyak orang, khususnya warga NU.

Setelah itu, tepatnya setelah ikut berbuka puasa, dan setelah berjamaah bersama kiai Dulah, saya mohon diri, melanjutkan perjalanan. Saya mengulurkan tangan, bersalaman. Anyes sekali tangan kiai Suaib, apalagi ketika kemudian rasa dingin itu mejalar ke tubuh saya….sampai saya melayang ke dunia lain, dunia yang lebih nyata.

Ternyata saya baru saja bermimpi….dari tidur tak sengaja setelah salat Asar. Sebentar lagi maghrib, sebentar lagi berbuka puasa. Syukron kasir kiai Dulah, ilmu yang kiai ajarkan, walau hanya lewat mimpi, terasa begitu berguna bagi kelangsungan kehidupan ini. Bumi memang harus kita jaga, dan ulama punya peran besar dalam upaya ini.

Kebumen, 8 September 2009.

Tulisan ini sebelumnya dimuat disini.

Keberdayaan, menerima kekalahan dengan senyuman

July 10, 2009 by TF Amin  
Filed under Featured

Salah satu tanda keberdayaan adalah menerima kekalahan dengan senyuman. Kalimat ini tiba-tiba saja muncul dalam pikiran saya ketika semalam nonton show telp-telponan antara capress Jusuf Kalla dan capress SBY di televisi. Acara telp-telp yang sungguh luar biasa, sampai hampir pagi saya gonta-ganti channel, dan buka-buka situs berita, menunggu telp-telp serupa antara capres Megawati dengan capress SBY.

Tapi, sampai sepagi ini, belum juga ada tuh telp-telp ini. Mungkin hari ini, semoga saja.

Read more

Modal untuk usaha ekonomi (3)

July 5, 2009 by TF Amin  
Filed under Pemberdayaan Ekonomi

Tulisan sebelumnya disini

Begini.

Apa yang tadi teman-teman ceritakan tentang usaha itu sebenarnya masih berupa keinginan, belum berupa usaha yang pernah teman-teman laksanakan. Sekali lagi maih berupa keingnan usaha yang akan teman-teman lakukan, bukan berupa usaha yang pernah atau sedang teman-tema nlakukan tapi karena kurang modal lantas usaha teman-teman  itu kurang berjalan dengan baik.

Para pemuda itu mengangguk, dan saya kemudian melanjutkan lagi.

Read more

Modal untuk usaha ekonomi (2)

July 1, 2009 by TF Amin  
Filed under Pemberdayaan Ekonomi

tulisan sebelumnya.

Saya bertanya kepada para pemuda itu, "memangnya berapa dana yang kalian butuhkan?" Pertanyaan saya lagi-lagi mengagetkan para pemuda itu. Karena seolah pertanyaan itu mengandung makna bahwa lembaga yang saya tawarkan akan bisa memberikan pinjaman dana sesuai dengan harapan mereka.

"Apa kami bisa meminjam dana sebesar tujuh juta?" tanya mreka.

Read more

Modal untuk usaha ekonomi

June 25, 2009 by TF Amin  
Filed under Pemberdayaan Ekonomi

Beberapa pemuda kampung mengelukan kegelisahan mereka, berkait dengan masalah pekerjaan. Keluhan itu tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Sampai terasa risih kuping saya mendengarnya.

“Kalau saja kami punya modal, kami bisa punya pekerjaan,” kata salah seorang dari mereka. Perkataan serupa juga disampaikan oleh lainnya walaupun dengan kalimat yang berbeda.

Mereka mengutarakan kegelisahan itu dengan harapan saya mencarikan modal. Saya pun mencarikan informasi beberapa lembaga seperti koperasi tempat meminjam modal.  Tapi sampai dua bulan kemudian, tak satu pun dari mereka yang memanfaatkan koperasi itu, untuk membiayai usaha yang mereka impikan.

“Mengapa  kalian tidak memanfaatkan koperasi itu?” Saya bertanya, dalam sebuah kesempatan ngobrol bersama mereka.

“Terlalu ribet syaratnya,” kata salah seorang dari mereka.

“Kami tak punya barang yang bisa dijadikan jaminan untuk uang yang kami pinjam,” kata lainnya.

Pendek kata, tidak satu pun dari mereka  yang meminjam uang di koperasi itu karena alasan mereka tidak berani ambil resiko atas syarat yang diajukan.

“Kalau saja syaratnya tidak seribet itu, kami sudah meminjamnya,” seorang dari mereka berkata. Wajah seseorang itu nampaknya menyimpan sesuatu yang berat, mungkin karena berharap sekali ada pinjaman tetapi dengan syarat yang bisa mereka jangkau.

“Berarti kalau ada koperasi lain yang memberi pinjaman dengan syarat tidak seribet itu teman-teman mau?” tanya saya.

Para pemuda itu saling pandang, seolah tidak percaya dengan yang saya tanyakan.

“Memangnya ada?” tanya mereka.

“Kalau ada, bagaimana?” saya jawab pertanyaan mereka dengan pertanyaan pula.

Saya menceritakan tentang lembaga pemberi pinjaman itu. Lembaga itu tidak mensyaratkan adanya jaminan, seperti koperasi yang sebelunya saya ceritakan. Tapi lembaga itu mensyaratkan adanya bagi usaha, sekian persen dari usaha yang akan dilaksanakan. Seberapa besar persenan hasil usaha itu bisa dibicarakan.

“Apa itu berupa BMT?”

Seseorang dari mereka yang bertanya itu bercerita bahwa biasanya yang menerapkan prinsip bagi hasil adalah BMT. Tapi, katanya pemuda itu lagi, banyak BMT yang masih mensyaratkan adanya jaminan.

“Boleh dibilang semacam itu,” kata saya. “Tapi jaminan bukan berbentuk barang, seperti misalnya sepeda motor. Jaminan yang dibuat oleh lembaga ini berbeda dari lainnya. Karena jaminannya berupa sebuah perencanaan usaha yang akan dibangun.”

“Sebuah perencanaan?” tanya mereka.

Apa maksudnya?

Ya, sebuah perencanaan. Lembaga itu mensyaratkan sebuah perencanaan usaha. Kalau boleh saya tahu, teman-teman akan usaha apa? Saya bertanya tentang usaha yang mereka akan bangun, untuk menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan syarat perencanaan.

Para pemuda itu saling pandang kembali. Kelihatannya mereka bingung dengan usaha apa yang mereka akan lakukan. Sampai beberapa lama mereka bingung, seorang dari mereka kemudian menjawab, “kalau sudah ada dananya, kami bisa menentukan usaha apa yang akan kami lakukan.”

“Berarti usahanya belum direncanakan?” tanya saya.

“Belum, karena kami lihat dulu dananya. Kalau dananya besar, kami akan membikin usaha yang agak baik, tapi kalau dananya kecil ya kami masih memikir-mikir usaha apa yang akan kami lakukan,” kata seorang pemuda itu.

Mendengar jawaban itu, saya berfikir sesuatu, berfikir yang kemudian melahirkan sebuah pertanyaan, benarkah para pemuda ini sebenarnya membutuhkan modal usaha? Kalau memang mereka membutuhkan modal usaha, mengapa mereka masih berfikir tentang usaha yang akan dijalankan? Bukankah semestinya mereka sudah mempunyai jawaban usaha yang akan mereka lakukan?

“Kang, memangnya berapa dana yang bisa kami pinjam dari lembaga itu?” salah seorang dari mereka bertanya. Sebuah pertanyaan yang terasa aneh di telinga saya, karena para pemuda itu saja belum punya rencana tentang usaha apa yang akan mereka lakukan  tapi mereka sudah berani bertanya tentang seberapa besar dana yang bisa  mereka pinjam.

bersambung kesini

Keberdayaan = Kemampuan memilih antara kebutuhan dan keinginan

June 23, 2009 by TF Amin  
Filed under Featured, Planning Blog

Di tulisan sebelumnya saya sudah menggambarkan sedikit tentang keberdayaan dengan contoh khusus keberdayaan masyarakat di daerah bencana serta keberdayaan dengan mengolah sampah. Dua tulisan itu semoga bisa sedikit menjelaskan tentang apa maksud keberdayaan dalam blog ini.

Berikut ini saya coba tuliskan lagi tentang maksud keberdayaan, dengan penekanan pada kemampuan memilih diantara sekian banyak pilihan. Seorang yang disebut berdaya manakala dia mampu menentukan pilihan antara dua hal yang seolah tidak ada bedanya,yakni: kebutuhan dan keinginan.

Apa itu kebutuhan, serta  apa pula itu keinginan?

Dua kata ini memang susah sekali didefinisikan, tapi sebenarnya begitu mudah dirasakan. Contoh di tulisan sebelumnya, khususnya nomor 3, saya kira sudah cukup menjelaskan. Saya tulis lagi contoh itu di bawah ini.

Seseorang ingin membeli motor, kendaraan bermesin roda dua. Apa tujuan dari membeli motor itu? Apakah tujuannya  seseorang itu membeli motor "karena ingin naik/mempunyai motor", atau karena seseorang itu membeli motor "karena butuh alat transportasi"?

Membeli motor "karena ingin naik/mempunyai motor" adalah jenis keinginan.

Keinginan tersebut muncul bisa jadi karena faktor lain seperti 1) tetangga membeli motor dan kita iri, 2) malu dengan temannya yang mempunyai motor,  3) atau pun lainnya. Tapi apa pun keinginannya, tetaplah fokusnya pada rasa "ingin naik motor", atau rasa ingin mempunyai motor.

Keinginan itu seolah wajar, tapi menjadi tidak wajar manakala keinginan itu diujudkan dengan cara yang tidak wajar.

Sering kita dengar, warga kampung harus menjual ini dan itu, khususnya sawah, hanya untuk memenuhi keinginan naik/membeli motor. Ada pula cerita, seorang anak yang mengancam membunuh orang tuanya hanya karena terdorong keinginan untuk membeli motor ini.

Sedang yang kedua, membeli motor "karena  butuh alat transportasi" adalah jenis kebutuhan.

Bisa jadi karena seseorang itu punya urusan yang memang mengharuskan alat transportasi cepat. Misalnya untuk urusan perdagangan. Atau anak sekolah, yang memang  lokasi sekolahnya jauh dari rumahnya.

Pada akhirnya memang tergantung pda diri kita, apakah kita mau membeli motor "karena ingin naik/mempunyai motor" atau pun "karena butuh alat transportasi". Seorang yang berdaya, apabila mampu mengedepankan kebutuhan daripada keinginan.

Di zaman ini, antara kebutuhan dan keinginan susah sekali dibedakan. Apa yang sebenarnya hanya keinginan, kadang bermakna kebutuhan. Iklan di televisi, koran, dan lainnya, termasuk internet, berperan besar dalam mengaburkan perbedaan antara kebutuhan dan keinginan.

(Selain dikaburkan, kadang malah keduanya, baik keinginan dan kebutuhan, diciptakan. Tapi untuk yang ini akan saya bahas di tulisan berikutnya. Tetaplah update blog ini, ok!)

Menjadi berdaya dengan mengolah sampah

June 21, 2009 by TF Amin  
Filed under Planning Blog

Saya pernah mengira bahwa sampah bukanlah persoalan serius. Karena itulah saya menuliskan ini sebagai kelanjutan dari tulisan sebelumnya disini. Anda mungkin  mengira demikian, bukan?

Karena mengira bukan soal serius, saya menganggap biasa dan lumrah saja orang-orang yang melakukan hal berikut ini untuk menyelesaikan problem sampah:

  1. Begitu selesai nyapu (membersihkan sampah), sampah dibuang ke sungai. Kalau di kampung ya di sungai kecil, kalen.
  2. Atau, sampah hasil sapuan dikumpulkan di kubangan, lalu sampah itu dibakar. Ludes.

Karena, bila tidak dibuang, atau tidak dibakar, sampah  akan mengakibatkan bau busuk, dan tidak menyehatkan bagi orang disekitarnya.

Read more

Pemberdayaan masyarakat di daerah bencana

June 21, 2009 by TF Amin  
Filed under Planning Blog

Salah satu contoh masyarakat berdaya dalam postingan saya sebelumnya adalah masyarakat yang berada di daerah bencana. Keberdayaan masyarakat di daerah bencana ini penting, mengingat Indonesia adalah negeri yang begitu banyak kejadian bencana.

Dan bisa jadi besok adalah daerah kita sendiri yang mendapat giliran bencana.

Read more

Next Page »