Keberdayaan, menerima kekalahan dengan senyuman
Salah satu tanda keberdayaan adalah menerima kekalahan dengan senyuman. Kalimat ini tiba-tiba saja muncul dalam pikiran saya ketika semalam nonton show telp-telponan antara capress Jusuf Kalla dan capress SBY di televisi. Acara telp-telp yang sungguh luar biasa, sampai hampir pagi saya gonta-ganti channel, dan buka-buka situs berita, menunggu telp-telp serupa antara capres Megawati dengan capress SBY.
Tapi, sampai sepagi ini, belum juga ada tuh telp-telp ini. Mungkin hari ini, semoga saja.
Saya bukan pengamat politik, apalagi politisi, tapi saya mesti mengucapkan selamat kepada JK yang mengucapkan selamat kepad SBY (semoga pak JK membaca tulisan ini, ha ha ha ha). Walau pun sebelumnya, mereka telah bertarung habis-habisan berkompetisi berebut jadi orang nomor satu di Republik ini. Kelakuan JK menjadi contoh yang sungguh baik bagi masyarakat Indonesia bahwa kekalahan bukanlah sesuatu yang memalukan, kekalahan bukanlah sesuatu yang harus disesali, kekalahan bukanlah awal dari permusuhan baru.
Saya berharap itu, pun kepada capres Megawati.
Sekali lagi saya bukan pengamat politik, apalagi politisi. Tapi saya begitu sering mendengar, bahkan melihat sendiri, betapa perebutan jabatan orang nomor satu, kelas kampung sekali pun, menjadi awal sebuah permusuhan baru. Permusuhan yang terus berlarut, bahkan kemudian merambah ke wilayah-wilayah lain. Permusuhan yang sesungguhnya berawal dari kesiapan untuk menjadi pemimpin, lalu ikut berkompetisi memperebutkan kekuasaan, kemudian tidak siap menerima kekalahan.
Ketidaksiapan untuk kalah inilah, sesunguhnya, yang menjadi awal dari persoalan baru.
Apapun alasannya, saya apresiasi kepada JK yang mengucapkan selamat kepada SBY, terlepas dari berbagai persoalan yang muncul pasca Pilpress 2009 ini. Apresiasi yang saya kira wajar, karena memang budaya untuk menerima kekalahan masihlah "budaya asing" bagi banyak orang Indonesia. Kebanyakan kita, hanya siap menang tapi belum berani siap untuk kalah.
Karena kalah adalah sesuatu yang dianggap momok, memalukan, dan serupanya.
Budaya menerima kekalahan mestinya beriringan dengan budaya menerima kemenangan. Tidak terpisah, atau berjalan sendiri-sendiri. Dan budaya itu mesti tertanam dalam pikiran kita semua, bahwa bila kita siap untuk menang, dalam ruang batin dan pikiran kita juga ada ruang kesiapan untuk kalah. Karena sesungguhnya, kalah dan menang adalah resiko yang kita tanggung dari apa yang kita lakukan.
Mungkin, mereka yang kalah disebabkan karena apa yang dilakukan belum maksimal, atau ada kesalahan proses, atau sebab lain. Atau barangkali karena kesalahan mekanisme. Tapi apapun alasannya, budaya menang dan kalah, mestinya sudah ada dalam hati dan pikiran kita, yang secara tidak sadar kemudian mengerakkan perilaku kita.
Jika demikian, saya kira, kemampuan menerima kekalahan, termasuk juga kekecewaan, adalah tanda bahwa seseorang itu rasional, dan berdaya. Dan, biar kalah pun, mestinya tetap tersenyum.***

ya demikianlah sikap kenegarawanan yang patut kita teladani. Potensi besar inilah yang membawa seorang Yusuf Kalla mendamaikan Poso dan Aceh. kekecewaan karena kalah memang menyakitkan, tapi lebih menyakitkan ketika memaafkan belum bertunas dalam diri….kita!
Semoga menjadikan teladan…
Sejatinya rakyat hanya meniru dari orang-orang yang berada disana, bagaimana akan lebih baik, jika orang-orang disana bersikap seperti itu. Selamat pada Pak JK, yang telah memberikan teladan pada rakyat.
“Diam adalah Emas”, begitu gumam yang diam-diam aja.
Jujur aja, aku gak nyontreng di pil-pil itu, jengah aja soalnya dan gak ada e’mas’nya; tapi ikut ngomentar selagi gak bayar resiko besar. biarin yang diam, hak-haknya juga. tetapi jikalau aku diam maka soalnya adalah: biar aku dikira punya modal bernama teka-teki, misteri, atau kelebihan lain ketimbang orang lain. padahal aku guoblok. ukurannya, ya karena gak nyontreng itu! masa pilpres lima tahun sekali gak milih; kan guoblok.
padahal, dengar dulu alasanku:
“Bahwa memilih untuk tidak memilih adalah sebuah pilihan”, hak gua juga! Tapi juga ada latarnya, yaitu: sebuah pilihan, jika berfikir tidak memilih… maka… wah, guobloknya.
sungguh suatu pembelajaran yang sangat bagus dan menjadi cermin jika ada orang yang bisa menerima kekalahan dari seseorang, kelompok lain, klub lain. semoga saya bisa mengamalkannya. karena hal itu salah satu modal dalam menjalani kehidupan dengan tetap selallu tersenyum
salut aj ama mrk yg berlapang dada..kami rakyat kecil jadi tentram…moga pemimpin kita adlah beliau yg mampu menampung indonesia di dalam dada….