Modal untuk usaha ekonomi (3)

July 5, 2009 by TF Amin  
Filed under Pemberdayaan Ekonomi

Tulisan sebelumnya disini

Begini.

Apa yang tadi teman-teman ceritakan tentang usaha itu sebenarnya masih berupa keinginan, belum berupa usaha yang pernah teman-teman laksanakan. Sekali lagi maih berupa keingnan usaha yang akan teman-teman lakukan, bukan berupa usaha yang pernah atau sedang teman-tema nlakukan tapi karena kurang modal lantas usaha teman-teman  itu kurang berjalan dengan baik.

Para pemuda itu mengangguk, dan saya kemudian melanjutkan lagi.

Kalau itu masih berupa daftar keinginan usaha, kayaknya lembaga ini tidak bisa memberikan pinjaman kepada teman-teman. Karena lembaga ini tidak menyediakan pinjaman kepada meeeka yang usahanya masih berupa keinginan, masih merupakan mimpi. Kalau saja teman-teman sudah memulai usaha itu, dan usaha itu kurang dana, lembaga itu akan bisa membantu teman-teman. Tapi karena semua usaha itu masih berupa daftar keinginan, atau masih merupakan mimpi, ya lembag itu tak bisa memberikan pinjaman.

Para pemuda itu mereasa kecewa sekali dengan pernjelasan saya. Sampai beberapa hari kemudian saya bertemu mereka lagi, dan saya menjelaskan kembali maksud saya tentang apa yang dimaksud perencanaan usaha.

Saya lalu menunjuk seorang yang bernama Akhmad, bukan nama sebenarnya.

Akhmad, sampeyan kan punya ayam. Seberapa banyak ayam yang sudah kamu punya?

Akhmad mencertikana bahwa ayam yang kini dipunya sebayak 27 ekor. Ayam itu dia beli dari uang yang dia peroleh dari pekerjaannya menjadi buruh. Ayam itu rencananya akan dijual untuk modal biaya dia nanti menikah.

Saya senang sekali dengan cerita dia itu, dan saya pun bertanya: "Mengapa kamu tiak mengusulkan beternak ayam saya, agar ayammu yang kini berjumlah 27 ekor itu bertambah menjadi 1000 ekor atau lebih?"

Saya perhatikan wajah Akhmad, yang seolah tidak percaya dengan pertanyaan saya.

Bagi Akhmad, pertanyaan saya memang aneh. Atau mungkin karena dia belum pernah mendengar pertanyaan  macam itu. Akhmad pun sampai beberapa lama tidak menjawab pertanyaan saya. Ada yang berputar-putar dipikirannya, mungkin.

Begini teman-teman. Usaha Akhmd ini menarik. Tapi kemarin dia tidak mengusulkan usaha peternakan ini. Akhmad kemarin malah mengusahakan ingin jualan makanan ringan. Kalau saja Akhmad kemarin mengusulkan untuk usaha pengembangan peternakannya, yang kini berjumlah 27 ekor menjadi 1000 ekor, atau lebih, tentu dia akan mendapat pinjaman.

Alasannya, pertama, karena usaha Akhmad ini bukan berupa keinginan lagi, apalagi berupa mimpi, usaha Akhmad nyata, karena sudah dijalankan. Kedua, karena Akhmad ingin mengembangkan usaha ternak ini agar bisa berkembang lebih besar.

Kedua sarat ini sudah bisa menjadi alasan bagi Akhmad untuk meminjam dana.

Maksud saya, kalau Akhmad mengajukan pinjaman untuk usaha jualan makanan ringan, dimana Akhmad belum pernah melakukan usaha itu, jelas tidak akan diterima. Tapi kalau Akhmad mengajukan pinjaman uang untuk pengembangan ternak yang sudah dijalankan kini, jelas lembaga itu akan menerimanya.

Tinggal satu saratnya, yakni planning.

Maksudnya, bila Akhmad meminjam dana sebesar tujuh juta, untuk apa dana itu? Dan bagaimana Akhmad akan mengelola dana itu, sampai akhirnya dalam waktu tertentu, misalnya setahun kemudian, usaha peternakan Akhmad berkembang dengan baik. Misalnya, Akhmad akan bisa punya 1000 ekor ayam dalam waktu setahun kemudian.

"Kalau hanya bisa mencapai 1000 ekor itu gampang, tapi kondisi saaat ini sedang berbahaya. Banyak ayam yang mati, lagi pula kebutuhan akan ayam tidak menentu," kata Akhmad.

Itulah yang prlu kau pikirkan, dan itula yang saya maksud perencanaan. Bagaimana Akhmad bisa merencanakan bisnis ternak ayam, minimal 1000 ekor. Kalau dalam prencanaan bisa, kayaknya Akhmad akan bisa menjalankn. Dan bila dlam perencnaanitu jelas, lembaga itu akan bisa memberikan pinjaman, dengan bagi hasil yang ditentukan bersama.

***

Sampai tiga bulan kemudian, ternyata Akhmad tidak mengajukan pinjaman itu. Apaagi teman-teman lainnya, tidak satu pun dari mereka yang juga berani. "Terlalu repot saratnya," kata mereka.

"Ya, terlalu repot memang. Karna usaha itu sendiri sudah repot", kata saya. "Dan sejuh yang saya tahu, para pengusaha besar rata-rata melewati fase kerepotan ini. Mereka menjadi sukses usahakanya, bukan karena duduk santai tanpa berfikir  berat. Mereka malah sangat merepotkan diri, dan dalam beberapa hal mereka sebenarnya sedang mengadu untung. Apalagi di Indonesia ini yang sistem ekonominya, diakui atau tidak, sudah kapitalistik."

Dalam satu sisi, sebagian pemuda itu bisa memahami, tapi sisi lain mereka kurang memahami apa yang saya maksudkan. Terutama pada kontek syarat perencanaan itu. Sebenarnya, kalau pemuda itu sudah menjalankan usaha, seperti Akhmad itu, walau Akhmad pun akhirnya tidak berani mengajukan pinjaman, mereka bisa memahami apa yang saya maksudkan.

Karena sebenarnya, syarat perencanaan itu bukanlah syarat dari lembaga pemberi pinjaman itu, Tapi sebenarnya, syarat itu adalah syarat bagi mereka ang ingin berusaha. Setiap usaha ekonomi, apapun usahanya, mestilah dilandasi dengan perencanaan. Setidaknya agar mereka yang akan menjalankan usaha itu tahu akan kemana arah dari usaha itu.

Dan bagi saya, kemampuan merencanakan ini merupakan salah satu wujud dari keberdayaan.

Tanpa ada perencanaan itu, kayaknya usaha ekonomi, dan usaha lainnya, akan mengalami kesulitan. dan, pada akhirnya, tergantung pada anda apakah akan mempercayai ini atau tidak. Terimaksih.

Comments

One Response to “Modal untuk usaha ekonomi (3)”
  1. Dariman says:

    Terkadang sudah ada rencana, yang terencanakan. Tapi dalam perjalanannya terkadang nyimpang dari rencana yang diplanningkan, dan sering saya mengalami hal seperti ini. Jika seperti ini terus, yang menjadi masalah adalah; apakah karena saya belum bisa membuat perencanaan, sehingga hasil perencanaansaya tidak matang. Yang akibatnya sering terjadi seperti hal itu “nyimpang”.

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!