Modal untuk usaha ekonomi (2)
July 1, 2009 by TF Amin
Filed under Pemberdayaan Ekonomi
Saya bertanya kepada para pemuda itu, "memangnya berapa dana yang kalian butuhkan?" Pertanyaan saya lagi-lagi mengagetkan para pemuda itu. Karena seolah pertanyaan itu mengandung makna bahwa lembaga yang saya tawarkan akan bisa memberikan pinjaman dana sesuai dengan harapan mereka.
"Apa kami bisa meminjam dana sebesar tujuh juta?" tanya mreka.
Kalau hanya segitu yang teman-teman pinjam, terlalu kecil bagi lembaga itu. Tapi ya itu, teman-teman mesti jelas akan usaha apa, dan mengapa usaha itu sampai membutuhkan dana tujuh juta, mengapa tidak sepuluh juta, atau lima juta.
Saya kemudian mengulang lagi apa yang sudah diawal saya sampaikan kepada mereka. Tentang modal perencanaan. Teman-teman mesti mempunyai perencanaan yang bagus untuk usaha itu.
"Apa sih yang dimaksud perencanaan yang bagus?"tanya mereka.
Sebenarnya pertanyaan teman-teman itu mudah dijawab bila teman-teman sudah punya gambaran jelas tentang usaha yang akan dilaksanakan. Kalau teman-teman belum punya gambaran tentang usaha yang akan dilaksanakan, teman-teman akan kesulitan membuat perencanaan yang bagus.
Dan ingat, kalau teman-teman tidak mempunyai prencanaan yang bagus ya teman-teman tidak bisa mengakses dana itu.
"Beri kami waktu agar kami bisa memikirkan tentang usaha yang akan kami buat," pinta mereka.
Oke, kata saya
***
Sampai dua minggu lebih saya baru bertemu mereka. Tapi tak satupun dari mereka yang mempresentasikan usaha yang akan mereka tawarkan. Sebagai gantinya, para pemuda itu bercerita tentang kemungkinan usaha yang mereka akan bangun di kampung itu. Ada yang ingin jualan makanan ringan, ada yang ingin berbisnis warung makan, ada pula yang ingin membut bengkel motor. Dan lain-lain sebagainya.
"Apakah semua jenis usaha itu sudah pernah dijalankan, walau pun dalam bentuk kecil?" tanya saya.
Belum, mereka serentak menjawab.
Tanpa menjawab itu pun, saya sebenarnya sudah tahu bahwa diantara para pemuda ini belum ada yang membuka usaha macam yang mereka tawarkan. Mereka selama ini lebih banyak bekerja sebagai buruh sawah, dan bangunan. Atau menyediakan tenaga bila ada pekerjaan yang membutuhan tenaha di kampung itu. Misalnya membikin batu bata, dan semacamnya.
"Berarti semua usaha itu masih berupa daftar keinginan?" tanya saya.
"Maksudnya?"
