Menjadi berdaya dengan mengolah sampah

June 21, 2009 by TF Amin  
Filed under Planning Blog

Saya pernah mengira bahwa sampah bukanlah persoalan serius. Karena itulah saya menuliskan ini sebagai kelanjutan dari tulisan sebelumnya disini. Anda mungkin  mengira demikian, bukan?

Karena mengira bukan soal serius, saya menganggap biasa dan lumrah saja orang-orang yang melakukan hal berikut ini untuk menyelesaikan problem sampah:

  1. Begitu selesai nyapu (membersihkan sampah), sampah dibuang ke sungai. Kalau di kampung ya di sungai kecil, kalen.
  2. Atau, sampah hasil sapuan dikumpulkan di kubangan, lalu sampah itu dibakar. Ludes.

Karena, bila tidak dibuang, atau tidak dibakar, sampah  akan mengakibatkan bau busuk, dan tidak menyehatkan bagi orang disekitarnya.

Sampah memang harus ditangani agar kesehatan orang di sekelilingnya terjaga. Apalagi juga, kebersihan adalah bagian dari iman –kata sebuah dalil agama.

Tapi, apakah menjaga kesehatan, dan tentunya iman, dengan cara membuang sampah di sungai atau dengan membakarnya? Bukankah cara menangani sampah begitu masih menyisakan, atau malah menambah persoalan baru?

Membuang sampah di sungai akan memunculkan  persoalan baru karena di tempat kita disini bersih, tapi di sungai ujung  sana terjadi persoalan: tumpukan sampah busuk dan bau. Atau, kalau pun di ujung sungai sana sudah ada petugas yg membersihkan sampah, tapi sampah yg mengambang di air akan menacemari air. Ketercemaran yg bisa saja mendatangkan nyamuk, dan ujungnya adalah mendatangkan penyakit.

Sedangkan membakar sampah juga melahirkan masalah baru. Sampah, apalagi sampah plastik, akan mengeluarkan zat CO2 dan ujungnya akan menambah pemanasan bumi. Apa yg kini dikenal pemanahan global, juga perubahan iklim (climate change), memang dipengaruhi banyak hal. Termasuk juga disebabkan dari pembakaran sampah plastik di sekitar rumah kita.

Sudah jelas bahwa membuang sampah di sungai dan atau membakar sampah merupakan cara mudah dalam menangani persoalan sampah. Tapi cara mudah itu masih meninggalkan persoalan. Keluar dari mulut harimau, masuk mulut buaya. Itulah sebuah ungkapan, yg menggambarkan betapa membuang sampah di sungai dan atau membakarnya masih meninggalkan persoalan.

Lantas?

Banyak orang, yang saya kenal, mencari alternatif, dengan cara mengundang petugas sampah untuk mengambil sampah setiap sekian hari sekali. Ini memang cara yang tepat, apalagi bila pembuangannya pada tempat yang semestinya yang memang sudah disediakan.

Tapi, alangkah baiknya bila tidak demikian. Tapi kita kelola sampah itu dengan lebih produktif. Dengan cara kita bikin kompos dari sampah basah, sementar sampah kering seperti platik (yg tidak bisa busuk) diberikan/jual.

Menyelesaikan problem sampah dengan cara yg produktif inilah sebenarnya melambangkan keberdayaan orang itu.  Apalagi jelas, mengelola sampah itu dengan cara produktif akan berbuah banyak hal: sehat diri, sehat reproduksi, berkurangnya konsumsi bahan kimia, dan banyak lainnya.

Pendek kata, mengelola sampah secara peoduktif adalah cermin orang berdaya.

Kedepan, kita akan ulas ini lebih detil lagi tentang pengolahan sampah. Karena sebenarnya, pengolahan sampah dekat sekali denga masalah keberdayaan masyarakat.

Comments

3 Responses to “Menjadi berdaya dengan mengolah sampah”
  1. M Mushthafa says:

    Kami punya sedikit pengalaman di sekolah dengan kegiatan peduli lingkungan, di antaranya mengolah sampah. Ceritanya di tautan ini:

    http://rindupulang.blogspot.com/2009/06/against-plastic-rubbish.html
    http://www.madaris3annuqayah.blogspot.com

  2. Awan says:

    selamat web baru..rajin update ya..jangan bosan bereksperimen,nanti klo sdh succes jangan lupa bagi2 tips..

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!